Kitāb at-Thohāroh (bersuci) : Bab Bejana, Hadits ke-23


5 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Kitāb at-Thohāroh (bersuci) [ كِتَابُ الطَّهَارَةِ ] 
Bab Bejana [بَابُ اَلْآنِيَة]

Hadits ke-23

23- وَعَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه : أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم اِنْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سلْسلَةً مِنْ فِضَّةٍ. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيُّ.

23-Dan dari Anas bin Malik Radhiyallahu 'anhu : bahwasannya gelas Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam retak, maka beliau menyambung bagian yang retak dengan sambungan dari perak. [HR. Al-Bukhory] mengeluarkan hadits ini. 

Faidah :

1. Biografi perawi sahabat : Namanya Anas Bin Malik, kunyahnya Abu Hamzah, menjadi pelayan Nabi semenjak beliau datang ke Madinah hingga beliau wafat, saat itu Anas berumur 10 tahun, dia tinggal di Bashrah di zaman khilafah ‘Umar untuk mengajarkan penduduk Bashrah. Dan dia berumur panjang, berkata Ibnu AbdilBarr : Di antara pendapat yang paling tepat, umurnya adalah 99 tahun. Dia termasuk sahabat yang paling terakhir meninggal di Bashrah tahun 93 H.

2. Hadits ini menunjukkan bahwa gelas yang ditempel oleh sedikit bahan emas dan perak karena suatu maslahat dan bukan untuk sekedar hiasan, maka boleh untuk dipergunakan makan minum.

3. Hadits ini merupakan pengecualian dari pengharaman makan dan minum menggunakan bejana yang mengandung logam emas dan perak.

4. Di antara faidah yang disebut oleh para ulama yaitu sikap hemat dalam pemakaian barang-barang, di mana dalam hadits disebutkan bahwa bejana milik Beliau pecah, dan Beliau tidak membuang atau membeli yang baru melainkan Beliau berusaha untuk memperbaikinya. 

Wallahu a’lam

Oleh : Ustadz Askar Wardhana, Lc  حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى