Kitāb at-Thohāroh (bersuci) : Bab Bejana, Hadits ke-22


5 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Kitāb at-Thohāroh (bersuci) [ كِتَابُ الطَّهَارَةِ ] 
Bab Bejana [بَابُ اَلْآنِيَة]

Hadits ke-22

22- وَعَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ الْلَّهُ عَنْهُمَا: أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَأَصْحَابَهُ تَوَضَّئُوا مِنْ مَزَادَةِ اِمْرَأَةٍ مُشْرِكَةٍ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، فِي حَدِيثٍ طَوِيلٍ.

22-Dan dari 'Imron bin Hushoin Radhiyallahu 'anhumaa ; bahwasannya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya berwudhu dari kantung air dari kulit milik seorang wanita musyrik. [Muttafaqun 'alaihi] dari sebuah hadits yang panjang.

Faidah :

1. Kulit bangkai yang telah disamak adalah suci, krn dalam hadits ini disebutkan "kantung air dari kulit milik seorang wanita musyrik" , yang mana sembelihan orang musyrik adalah bangkai, namun Rasulullah shallallahu  'alaihi wa sallam berwudhu darinya.

2. Kulit bangkai yang telah disamak boleh dimanfaatkan bahkan untuk menampung air dan berwudhu darinya. Hal termasuk dalam keumuman hadits yang pernah kita bahas sebelumnya :

«إِذَا دُبِغَ الْإِهَابُ فَقَدْ طَهُرَ». أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ. وَعِنْدَ الْأَرْبَعَةِ: «أَيُّمَا إِهَابٍ دُبِغَ». 

Apabila Kulit telah disamak, maka dia telah suci. [HR. Muslim]. Dan dalam riwayat yang empat : [Kulit mana saja yang disamak].

3. Bolehnya memakai bejana orang musyrik selama tidak terdapat hal-hal yang najis atau diharamkan.

Wallahu a'lam.

Oleh : Ustadz Askar Wardhana, Lc  حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى