Kita Termasuk Tingkatan Yang Mana ?


7 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily - semoga Allah menjaga beliau- berkata : 

Seorang hamba yang jatuh pada perbutan dosa, mereka terbagi menjadi empat tingkatan ;

1. Seseorang yang berbuat dosa kemudian menyandarkan (perbuatan dosa) tersebut kepada Allah azza wa jalla. Barangsiapa yang melakukan hal ini, maka dia seperti orang-orang musyrikin. Allah berfirman : 

سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا

"Orang-orang yang berbuat kesyirikan akan berkata : seandainya Allah berkehendak, maka kami tidak akan jatuh pada perbuatan syirik, begitu juga bapak moyang kami". [Al-An'am : 148]

Kita mendapatkan sebagian kaum muslimin apabila melakukan perbuatan maksiat berkata : seandainya Allah berkehendak, maka aku tidak akan melakukan perbuatan dosa. Mereka beragumentasi dengan takdir terhadap apa yang mereka lakukan. Para ulama' berkata : tidak boleh beragumentasi dengan takdir terhadap maksiat, dan boleh beragumentasi dengannya atas musibah.

2. Seseorang melakukan maksiat, dan dia tau bahwasannya yang dia lakukan adalah dosa, akan tetapi dia tidak bertaubat, bahkan tidak ada keinginan untuk bertaubat. Dia tidak mau bertaubat bisa  dikarenakan salah satu dari dua hal ;

■ Karena putus asa, dia merasa dosanya terlalu banyak, sehingga dia merasa tidak bermanfaat baginya taubat dan istighfar.

■ Karena terlalu berharap pada ampunan Allah (sehingga dia meremehkan perbuatan dosa) dia menganggap Allah maha pengampun, namun dia terus menerus bermaksiat.

3. Seseorang yang berbuat dosa, dan dia mengetahui /menyadari apa yang dia lakukan merupakan perbuatan dosa, kemudian dia bertaubat dan beristighfar memohon ampun kepada Allah. Hal ini merupakan suatu kewajiban, barangsiapa yang melakukannya (taubat dan istighfar, penj) maka dia telah melaksanakan apa yang diwajibkan Allah kepada hambanya yang jatuh pada berbuatan maksiat.

4. Seseorang yang berbuat dosa, dia mengakui perbuatan dosa tersebut, dia bertaubat dan beristighfar, kemudian dia mencari hikmah dibalik perbuatan dosa yang dia lakukan. Kemudian mengetahui, dia berbuat dosa lantaran disebabkan dosa lain yang dia lakukan. Sebagian ulama' salaf ketika mereka berbuat dosa, maka kemudian mereka instropeksi diri. Al Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahulloh berkata : aku dihalangi (tidak bisa) melakukan sholat malam disebabkan dosa yang aku lakukan lima bulan. 

[Tazkiyatun nafs, mafhùmuha, maròtobuha, wa asbàbuha, halaman 31-34]

Dari penjelasan di atas, bisa kita ambil faedah, diantara hal yang menghalangi seseorang melakukan ketaatan diantaranya yaitu perbuatan dosa yang dia lakukan.


Oleh : Ustadz Budi Santoso, Lc  حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى