Kitāb at-Thohāroh (bersuci) : Bab Bejana, Hadits ke-25


3 bulan lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Kitāb at-Thohāroh (bersuci) [ كِتَابُ الطَّهَارَةِ ] 
Bab Bejana [بَابُ اَلْآنِيَة]

Hadits ke-25

25- وَعَنْهُ قَالَ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ, أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَبَا طَلْحَةَ, فَنَادَى: «إِنَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يَنْهَيَانِكُمْ عَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا رِجْسٌ». مُتَّفَقٌ عَلَيْه.

25. Dan dari Anas radiyallahu 'anhu berkata : Ketika pada hari Khaibar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan perintah kepada Abu Thalhah, maka dia pun berseru : "Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya telah melarang kalian dari memakan daging Keledai, karena dia adalah najis". Muttafaqun 'alaihi

Faidah :

1. Khaibar letaknya di sebelah Utara kota Madinah sekitar 150 km. Kota ini ditempati oleh Yahudi Bani Nadhir yang sebelumnya diusir oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari kota Madinah.

2. Daging keledai haram untuk dimakan, dan termasuk susunya tidak boleh diminum.

3. Daging keledai adalah najis, termasuk darah, kotoran dan kencingnya. Adapun ludah,ingus  dan bulu di sekujur tubuhnya adalah suci, oleh karena itu diperbolehkan menungganginya sebagaimana dikuatkan oleh Ibnul Qayyim.

4. Perintah dan larangan dari Rasul sama hukumnya dengan perintah dan larangan dari Allah, dan ketaatan kepada Rasul sama dengan taat kepada Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah :

{مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا}  

Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. [QS-An-Nisa (4) : 80]

5. Bahwasannya yang berhak untuk mengharamkan dan menghalalkan adalah Allah, maka tidak boleh siapapun menghalalkan ataupun mengharamkan tanpa dalil. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman :

{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُون}

Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [QS. An-Nahl : 116]

6. Hukum Asal segala sesuatu adalah halal dan suci, hingga datang dalil yang menjadikannya haram dan tidak suci.

7. Hukum asal larangan adalah untuk pengharaman, hingga datang dalil lain yang memalingkannya.

8. Semua benda yang najis maka haram untuk dimakan, namun sebaliknya benda haram belum tentu najis.

9. Benda yang halal lebih banyak dari pada yang haram.

10. Abu Thalhah adalah seorang yang suaranya lantang sehingga diberikan perintah untuk mengumumkannya. Hal ini menunjukkan boleh menggunakan pengeras suara untuk maslahat.

11. Segera meninggalkan benda atau perbuatan haram. Sebagaimana dalam kisah hadits tersebut di mana para sahabat membuang daging yang telah dimasak karena Allah dan Rasul-Nya telah mengharamkannya.

Wallahu a’lam

Oleh : Ustadz Askar Wardhana, Lc  حَفِظَهُ اللهُ تَعَالَى