Ketika Saudaramu Bermaksiat


2 bulan lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Jika engkau melihat saudaramu terjatuh dalam lubang dosa dan maksiat, maka sikapilah dia dengan sikap yang bijak dan tepat.

Al-muslimu mir-atu akhihi (seorang muslim adalah cermin bagi saudaranya)

Saudara yang baik itu laksana cermin, ia jujur di hadapan saudaranya, ia akan menasehati dan menampakkan kekurangan saudaranya, agar saudaranya tadi berbenah diri dan menjadi lebih baik.

Apa yang engkau lakukan ketika saudaramu berbuat maksiat?

1. Menghadirkan dalam hatimu 3 sikap.

a. Sikap marah
b. Sikap kasihan
c. Sikap syukur

Marah karena dia telah melanggar hak-hak Allah, kasihan karena dia terjatuh pada kemurkaan Allah, dan bersyukur karena kalaulah bukan karena rahmat Allah niscaya kita terjatuh sebagai mana dia terjatuh.


2. Berusaha mencarikan udzur dan mendoakannya.

Ja’far bin Muhammad rahimahullah berkata:

“Apabila sampai kepadamu dari saudaramu sesuatu yang kamu ingkari, maka berilah ia sebuah udzur (alasan) sampai 70 udzur. Bila kamu tidak mendapatkan udzur, maka katakanlah, “Barangkali ia mempunyai udzur yang aku tidak ketahui.” [HR Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no 8344].

Lihatlah akhlak Nabi, ketika beliau dizhalimi dan diperangi oleh kaumnya, beliau berdoa

اللهم اهد قومي فإنهم لا يعلمون

"Ya Allah berikanlah petunjuk kepada kaumku karena sesungguhnya mereka belum mengerti" [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi di dalam Syu'ab al-iman] 

Dari doa tersebut bisa disimpulkan 3 sikap nabi; memaafkan, mendoakan dan mencarikan udzur atau alasan bagi ummatnya.


3. Engkau berusaha menasehatinya tanpa melukainya dan membimbingnya tanpa menyakitinya.

Memberi nasehat adalah bagian dari ibadah, maka lakukanlah dengan ikhlas untuk mengharap ridho Allah. Nasehat yang tidak ikhlas akan melukai orang yang kita nasehati. Menata niat ketika menasehati memiliki peran utama dalam memperbaiki orang yang kita nasehati. 

Abu Muhammad Ibnu Hazm Azh Zhahiri menuturkan:

“Jika kamu hendak memberi nasehat (kepada saudaramu) sampaikanlah secara rahasia bukan terang-terangan dan dengan sindiran bukan terang-terangan. Terkecuali jika bahasa sindiran tidak dipahami oleh orang yang kamu nasehati, maka berterus teranglah!” [Al Akhlaq wa As Siyar, halaman 44]


4. Engkau berusaha menutup Aibnya dan tidak membuka dan menyebarkannya di hadapan Manusia.

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًـا ، سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.

Barangsiapa menutupi Aib seorang Muslim, maka Allâh menutup aibnyanya pada hari Kiamat. [HR. Bukhori dan Muslim]


5. Engkau tidak mengungkit-ungkit dan mencelanya.

Ibrahim an-Nakhai berkata;

إني لأرى الشيء أكرهه فما يمنعني أن أتكلم فيه إلا مخافة أن أبتلى بمثله. التاريخ الكبير

"Aku melihat sesuatu yang aku benci dan tidak ada yang menghalangiku untuk memberikan komentar kecuali karena kekhawatiran suatu saat nanti aku yang terjatuh dalam hal tsb"

Imam Hasan Al-Bashri berkata:

كانوا يقولون: من رمى أخاه بذنب قد تاب منه لم يمت حتى يبتليه الله به. الصمت لابن ابي الدنيا

"Para sahabat nabi berkata: barangsiapa yang mencela saudaranya karena dosa yang dikerjakannya padahal saudaranya itu telah bertaubat dari dosanya tersebut niscaya ia tidak akan meninggal dunia kecuali setelah ia mengerjakan dosa yang serupa dengan yang dilakukan oleh saudaranya itu." [Ashamt Ibnu Abiddunya]


6. Mendoakannya agar Allah membimbingnya dan menetapkan keistiqomahan dalam hatinya.
 
Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Tidak ada seorang muslim pun yang mendoakan kebaikan bagi saudaranya (sesama muslim) tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama.” [HR. Muslim no. 4912].

Semoga Allah menjaga persaudaraan kita.


✏ Ustadz Fadlan Fahamsyah, Lc,M.H.I حفظه الله تعالى