Hidup Bersama Sunnah (Ust. Dr. Muh. Arifin Badri, MA)


11 tahun lalu oleh Radio Suara Al-Iman / 0 komentar

Ikrar seorang mukmin seorang muslim yang selalu melekat pada dirinya dan akan terus menjadi motivasi dalam hidupnya adalah syahadat Muhammad rasulullah. Rukun Islam itulah pondasi landasan dalam hidup kita, itulah hakikat dari kehidupan kita yang sejati, tujuan hidup di dunia ini yaitu untuk mengabdikan diri kepada Allah, sesuai teladan yang Allah turunkan kepada nabi Muhammad shallallahu’alaihi wa sallam.

Namun sudah barang tentu sebagai konsekuensi syahadat Muhammad rasulullah ialah kita senantiasa menjadikan rasulullah sebagai suri teladan kita di dalam seluruh aspek kehidupan kita, sosial kita, budaya kita, perniagaan kita, dan dalam tata cara kita menegakkan ibadah kita kepada Allah Azza wa Jalla. Allah berfirman

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Ali Imran: 31)

Yaitu dengan meneladani, menaati, dan patuh kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam secara mutlak tanpa pilah-pilih dari semua yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, baik dalam hal ibadah ataukah aspek kehidupan yang lainnya. Allah berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Apapun yang diperintahkan oleh Rasul maka kerjakanlah, dan apapun yang dia larang kalian darinya maka jahilah (QS Al Hasyr: 7)

Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin memiliki pilihan ataupun sanggahan terhadap syariat yang telah diturunkan oleh Allah kepada rasulnya baik dengan alasan logika, kearifan lokal, standar kelayakan umum, atau alasan-alasan serupa lainnya. Allah berfirman

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. dan Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya Maka sungguhlah Dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab: 36)

Karena jika kita menyelisihi ataupun menyanggah terhadap keputusan Allah dan Rasul-Nya itu semua mencerminkan lunturnya iman pada hati kita, orang yang benar-benar beriman ia akan senantiasa mengibarkan semangat sami’na wa ata’na (kami mendengar dan kami taat) terhadap perintah dan keputusan Allah dan Rasul-Nya dalam setiap urusan baik dalam urusan ibadah ataupun urusan-urusan yang lainnya.

Kalaulah sekarang kita belum dapat mencerna, menganalisa, dan menangkap hikmah atau manfaat perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam maka tidak sepatutnya kekurangan yang ada pada kita tersebut menajadi alasan untuk kita menyanggah, menunda, atau bahkan menolak syariat atau perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Jika kita belum mampu maka sepatutnya semangat iman kita kita kedepankan sehingga jika kita belum mampu menangkap hikmah atau perintah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam ataupun larangannya kita tetap senantiasa mengibarkan semangat sami’na wa ata’na (kami mendengar dan kami taat).  Allah berfirman

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka[1045] ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh". dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung. (QS An Nur: 51)

Itulah yang seharusnya yang kita lakukan, itulah yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin setiap mendengar perintah atau tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yaitu kita mendengar dan kemudian kita patuh dan taat terhadap perintah atau tuntunan beliau.

Pada suatu hari rasulullah seusai menjalankan shalat gerhana beliau berbicara di depan sahabat-sahabatnya

أَنَّكُمْ تُفْتَنُونَ فِي قُبُورِكُمْ مِثْلَ ، أَوْ قَرِيبًا مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ يُقَالُ مَا عِلْمُكَ بِهَذَا الرَّجُلِ فَأَمَّا الْمُؤْمِنُ ، أَوِ الْمُوقِنُ فَيَقُولُ هُوَ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ جَاءَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى فَأَجَبْنَا وَاتَّبَعْنَا هُوَ مُحَمَّدٌ ثَلاَثًا فَيُقَالُ نَمْ صَالِحًا قَدْ عَلِمْنَا إِنْ كُنْتَ لَمُوقِنًا بِهِ ، وَأَمَّا الْمُنَافِقُ ، أَوِ الْمُرْتَابُ لاَ أَدْرِي أَيَّ فَيَقُولُ لاَ أَدْرِي سَمِعْتُ النَّاسَ يَقُولُونَ شَيْئًا فَقُلْتُهُ.

Sejatinya kalian, ketika berada di alam kubur kalian akan menghadapi ujian di sana, dan ujian tersebut sangat berat (beratnya kondisi ujian di alam kubur itu seperti beratny kondisi ujian ketika menghadapi fitnah dajjal). Akan dikatakan kepada kalian, “Apa yang selama ini engkau yakini dan imani tentang laki-laki ini?”

Maka orang yang beriman ia akan mampu menjawab dan mengatakan dia adalah Muhammad utusan Allah, ia telah datang kepada kami membawa penjelasan dan petunjuk, maka kami pun menjawab seruan beliau dan kami pun mengikutinya. Dia adalah Muhammad, ia mengatakannya sebanyak tiga kali.

Maka dikatakan kepada orang mukmin tadi, “Tidurlah dalam kondisi tentram dan damai, kami telah mengetahui bahwa engkau dahulu adalah seorang yang beriman dengannya.”

Adapun orang yang hatinya dipenuhi kebimbangan
(orang yang didalamnya ada benih-benih kemunafikan), “Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan sesuatu aku pun ikut-ikutan mengikuti ucapan tersebut.” (HR Bukhari)

 Dari hadis ini, sudah sepatutnya menjadi pelajaran betapa orang yang ragu ia mengucapkan jawaban yang jika kita renungkan ia akan jadi petir yang menyambar, disebutkan bahwa orang yang munafik yang menampakkan keimanan berpura-pura menjadi seorang muslim,

 “aku tidak tahu siapakah Muhammad itu? Namun yang terjadi aku hanyalah mengikuti tradisi masyarakat setempat, mereka mengucapkan suatu ucapan maka aku pun ikut.”

Tidakkah kita sedikit merenung dan bertanya pada diri kita, apakah status keislaman kita selama ini, apakah kita berstatus seorang muslim yang mengucapkan ucapan-ucapan yang sering diucapkan oleh orang Islam, mengerjakan apa yang sering dikerjakan oleh masyarakat muslim tanpa mengetahui apa dan untuk apa, tanpa mengetahui dasarnya tanpa mengetahui asal usul ucapan tersebut atau amalan tersebut. Bila itu yang terjadi, Maka itulah ancaman besar bagi kita.

Akankah kita di alam kubur kita akan mengucapkan, “Aku tidak tahu siapakah sejatinya Muhammad itu? Aku hanya mendengar suatu ucapan bahwa dia itu Rasulullah, katanya dia itu demikian-demikian, maka akupun mengikuti kata orang tanpa mengetahui siapa sejatinya dia, apa maksud dan tujuan ia diutus, karena aku hidup di masyarakat Islam saya pun ikut-ikut Islam tanpa mengetahui apa sih sebenarnya Islam itu?

Maka wajar para ulama mengatakan bahwa salah satu hal yang harus ada pada seorang mukmin sebagai implementasi dari keimanannya, bahkan menjadi syarat keabsahan imannya adalah ia benar-benar memahami maksud dan tujuan dari syahadatnya. Sebagaimana  yang ditegaskan oleh Allah

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan (QS Muhammad: 19)

Para ulama menyatakan dari ayat ini, bahwa syarat sahnya syahadat adalah berilmu, sehingga dengan ilmu itu ia dapat menjalankan syariat-syariat Rasulullah sebagaimana yang ia tuntunkan dan laksanakan.

Adapun dengan hanya bermodalkan semangat bahkan terlebih karena ikut-ikutan, maka ketahuilah budaya sebatas ikut-ikutan dengan nenek-moyang dan orang-orang sekitar itu sejatinya adalah budaya orang-orang musyrikin, budaya orang-orang bodoh, sehingga ia tidak mengetahui mengapa ia berdiri, bangun, duduk, pergi dan datang, alasannya hanya satu yaitu tradisi dan tradisi, budaya, demikianlah nenek moyang kita.

إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَى أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَى آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ

"Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (QS. Az Zukhruf: 23)

Karena itu jadilah seorang muslim karena benar-benar mengetahui, benar-benar memahami maksud dan tujuan serta tata cara beriman kepada beliau, mengapa dan bagaimana Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam beribadah, dan jangan puas hanya sebagai seorang yang beragama Islam karena lahir pada komunitas muslim, berislam karena hidup di masyarakat yang mayoriatas beragama Islam. Tidaklah sepatutnya seorang muslim bersikap demikian, kita terus berusaha untuk menggali mempelajari mengenal syariat Rasulullah untuk kita amalkan untuk kita teladani sehingga benar-benar menjadi umat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Tidakkah kita ingat dahulu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengobarkan semangat menuntut ilmu mengenal ajaran-ajaran Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Bahkan dalam maktamar terbesar yang terjadi pada zama Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, ketika wuquf di padang Arafah beliau mengobarkan semangat pada diri umatnya untuk menuntut ilmu dan menyampaikannya sehingga kita menjadi umat beliau karena kita mengenalnya karena kita bukan sebatas ikut-ikutan.

بالغوا عني ولو آية

Ajarkanlah tuntunanku walau hanya sedikit

Masing-masing berusaha mengajarkan ilmu yang telah ia dapatkan, sehingga kita semua menjadi masyarakat mukmin dan muslim bukan karena hasil warisan dan tradisi, namun karena di dalam diri kita tertanam iman dan taqwa yang teguh dan semangat mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bukan sekedar semangat menghidupkan tradisi.

Maka janganlah jadikan agama ini sebagai tradisi namun warnai dan ubahlah tradisi dengan kebiasaan beriman, semangat meneladani sunnah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sehingga kita menjadi umat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam yang akan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat kelak.

Hasan Al Bashri berkata

عبادات أهل الغفلة عادات، وعادات أهل اليقظة عبادات

Ibadahnya orang yang lalai hanya dinilai sebagai tradisi dan rutinitas, sedangkan rutinitas atau tradisi orang yang berilmu itu dinilai sebagai ibadah

Ibadahnya orang yang lalai, orang yang bodoh dan pandir tak ubahnya hanya sebatas tradisi karena ia hanya mengikuti tradisi dan rutinitas yang ada. Ia melakukan amalan bukan karena ia percaya, bukan karena memahami, bukan karena semangat untuk meneladani, ia hanya sebatas menyemarakkan acara dan tradisi yang sudah mendarah daging di masyarakat. Karena masyarakat bangun pagi untuk shalat maka ia pun bangun untuk shalat, karena banyak orang shalat di masjid maka ia pun pergi ke masjid bukan karena mencari keridhaan Allah Ta’ala, karena masyarakat berpuasa maka ia pun ikut berpuasa.

 Adapun tradisi atau kebiasaan ahli ilmu akan bernilai ibadah, misalnya tidurnya. Tidurnya bukan hanya sebatas tidur akan tetapi ada tujuan mulia di balik tidurnya, ia tidur agar dapat bangun untuk shalat malam, ia tidur supaya dapat shalat subuh tepat waktu. Ia bekerja bukan hanya untuk mendapat uang dan foya-foya, Ia bekerja untuk menafkahi keluarganya agar dapat bersedekah dan agar dapat  menegakkan ibadah kepada Allah Ta’la.

Oleh karena itu, marilah kita kobarkan semangat untuk mengenal, mempelajari dan kemudian mengamalkan tuntunan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam kehidupan kita sehingga Islam kita bukan Islam tradisi, bukan Islam warisan, karena jika Islam kita adalah Islam warisan, kita akan menjawab pertanyaan malaikat pada ketika di alam kubur. “Aku tidak tahu, aku mendengar manusia mengatakan sesuatu aku pun ikut-ikutan mengikuti ucapan tersebut.” Jika ini yang terjadi, maka celakalah kita, karena jika demikian jawaban kita maka akan dikatakan kepada kita,

فَأَفْرِشُوهُ مِنَ النَّارِ وَأَلْبِسُوهُ مِنَ النَّارِ وَافْتَحُوا لَهُ بَابًا إِلَى النَّارِ ». قَالَ : « فَيَأْتِيهِ مِنْ حَرِّهَا وَسَمُومِهَا ». قَالَ : « وَيُضَيَّقُ عَلَيْهِ قَبْرُهُ حَتَّى تَخْتَلِفَ فِيهِ أَضْلاَعُهُ

Hamparkan baginya hamparan dari Neraka, dan pakaikanlah untuknya pakaian dari api Neraka, dan bukakan pintu dari alam kuburnya ke api neraka sehingga ia senantiasa merasakan suhu dan uap api neraka sepanjang di kuburnya, dan dijadikan sempit alam kuburnya menghimpit dirinya sehingga tulang rusuknya saling bersilang. (HR Ahmad)

Jangan pernah jadikan agama kita sebagai tradisi, yang kita warisi dari nenek moyang. Namun agama yang kita jalani adalah agama yang kita pelajari dan kita imani, sehingga iman kita adalah iman yang kokoh dan teguh, kita tidak akan mudah diombang ambingkan oleh berbagai badai godaan di dunia ini, sehingga kita tidak seperti yang Allah firmakan

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah bagaikan ia berada di pinggir jurang [tidak dengan penuh keyakinan]; Maka jika ia memperoleh kenikmatan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, segera ia tersungkur [kembali kafir lagi]. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS Al Hajj: 11)

Marilah kita instropeksi diri, sudahkan kita menjadi umat Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam karena kita telah mengenal, memahami, dan meyakini tentang beliau dan syariat-syariatnya, bukan karena tradisi, sehingga jika tradisi berubah iman kita tidak berubah, jika kita berganti posisi barganti masyarakat iman kita tidak berubah.

Selengkapnya simak kajian berikut. Pada kajian kali ini Ust. DR. Muhammad Arifin Badri  حفظه الله menjelaskan kepada kita apa bagaimana cara kita menerapkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimanakah konsekwensi syahadat muhammad rasulullah, kajian ini disampaikan di Radio Suara Al-Iman Surabaya pada hari Jumat, 20 September 2013.

Radio Suara Al-Iman Surabayaradio dakwah dan syiar IslamAhlus Sunnah wal Jama’ah, mengudara pada frekuensi radio AM 846 kHz yang dapat dijangkau oleh radio di Jawa Timur dan Madura (sebagian besar Jatim, pada khususnya), hingga beberapa kota di Jawa Tengah (Rembang, Blora, dll). Radio Suara Al-Iman Surabaya juga dapat dinikmati melalui radio streaming dan Flexi radio. Gabung juga di Facebook dan Twitter Radio Suara Al-Iman, untuk berlangganan info kajian di Jawa Timur.